Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan
Dua minggu mendatang, Ramadhan bakal tiba. Puasa sebulan penuh lamanya, berbagai kegiatan pun dilaksanakan di seantero Indonesia. Bulan sebelumnya, Pramuka melaksanakan Perkemahan Jum'at Sabtu Minggu (PERJUSAMI). Kali ini giliran Palang Merah Indonesia (PMI) melaksanakan Jumpa Bakti Gembira (JUMBARA) Palang Merah Remaja (PMR) se-Kabupaten Bantaeng. Berlangsung sejak tanggal 15 Juli 2011 kemarin dan akan berakhir tanggal 19 Juli 2011 lusa. Ratusan peserta tingkat Madya dan Wira dari berbagai sekolah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sesepuh PMI Butta Toa Cabang Bantaeng (Andi Burhanuddin Syaggaf) menjelaskan, JUMBARA bertujuan untuk menggali potensi para relawan Madya dan Wira atas latihan yang selama ini dilaksanakan di sekolah masing-masing sekaligus memberikan penilaian, memantapkan dan memberikan penghargaan atas jerih payahnya. Tidak hanya itu, menurutnya dengan JUMBARA para relawan dapat bertukar informasi, membangkitkan semangat perdamaian dan persatuan. Termasuk di dalamnya dapat mempererat persaudaraan antara Pembina, Guru, Pelatih dan Relawan serta antar Relawan itu sendiri.

JUMBARA jangan sekedar dijadikan sebagai ajang lomba saja, meski pada dasarnya dalam kegiatan ini berkaitan erat dengan perlombaan. KAENG atau Karaeng Boer yang juga akrab disapa Bung Tomo oleh Komunitas Radio 2 Meteran, menekankan kepada setiap Panitia yang tergabung dalam Korps Suka Rela (KSR) Butta Toa agar mengarahkan dan memberikan pembinaan terhadap Relawan Madya maupun Wira bilamana dalam pelaksanaan lomba masih mengalami kendala. Hal ini dilakukan demi mempersiapkan PMR Madya dan Wira yang siap menjadi generasi penerus PMI di masa mendatang.

JUMBARA PMR ke-III se-Kabupaten Bantaeng Tahun 2011 mengambil Tema Ceria, Cerdas dan Bersahabat (Cheerful, Smart and Friendly) dengan Sub Tema Berprestasi, Berkreasi dan Meningkatkan Keterampilan untuk Kemanusiaan yang mengambil lokasi di Lapangan Sambang Katimbang, Kamp. Pullauweng, Desa Ulugalung, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng. Peserta sebanyak 207 orang Relawan dan 36 orang Pembina, terdiri dari :

Madya
  • SMP Neg. 2 Bissappu
  • SMP PGRI Campagaloe
  • SMP Neg. 2 Gantarang Keke
  • SMP DDI Mattoanging
  • Mts. Hasyim Ashari (Tanetea)
  • MTs. Ma'Arif Puro'ro
Wira
  • SMA Neg. 1 Bantaeng
  • SMA Neg. 1 Bissappu
  • SMK Yayasan Mega Anugerah (Rappoa)
  • MA Nahdhatul Tawalib Tompong
Diharapkan melalui JUMBARA ini akan mewujudkan Remaja PMI yang berkarakter dan berbakti kepada masyarakat. PMR dapat menjalin dan mempererat persahabatan nasional maupun internasional, mengingat Relawan di bawah panji Palang Merah adalah satu-satunya komunitas independen yang dapat menengahi kubu-kubu yang berseteru. Bercermin pada tokoh Jusuf Kalla (JK) yang juga Ketua Umum PMI dalam penyelesaian konflik GAM di Aceh. Seluruh Relawan, baik dari tingkat Mula, Madya, Wira, KSR, Pembina, Pelatih dan sebagainya kiranya dapat mengikuti jejak petinggi PMI itu. Menanamkan jiwa kepedulian di dalam dirinya. Peduli tanpa pamrih dan tidak mengutamakan kepentingan golongan tertentu meski harus rela kepansanan, kedinginan dan kehujanan.

Support dari berbagai kalangan terhadap kegiatan ini amatlah besar, antara lain :
  • Fire Rescue of Bonthain
  • Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain
  • Pemerintah Kabupaten Bantaeng
  • Rumah Sakit Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
  • Puskesmas Sinoa
  • Sanggar Seni Latar Nusa
  • AMBAE
  • Ambae.exe
  • Gadde-gadde
  • PMI Cabang Bulukumba
  • KSR Panrita Lopi-Bulukumba
  • Baling-baling Adventure Team (BAT)
  • POM
  • TNI
  • Komunitas Seni dan Budaya Bantaeng
  • Komunitas Seni dan Budaya Bulukumba
  • dan Komunitas Jajanan Bonthain
PMR merupakan cikal bakal Relawan PMI yang berkualitas yang mampu menjalankan tugas-tugas kemanusiaan dan menjalin kesinambungan organisasi PMI di masa depan. Olehnya itu, PMR harus dididik, dibina dan dikembangkan sejak dini agar bisa menjadi sosok Relawan yang berkarakter keIndonesia-an, terampil, kreatif dan memiliki jiwa kepemimpinan. JUMBARA merupakan sarana untuk mewujudkan upaya tersebut dengan mengadakan berbagai perlombaan. Sehingga Relawan memiliki bekal sebelum terjun ke lapangan, khususnya dalam menangani korban kecelakaan atau pun bencana. Lomba-lomba yang harus diikuti tiap peserta Madya maupun Wira yakni :

JUMPA
  • Pertolongan Pertama (PP)
  • Pasang Bongkar Tandu (PBT)
  • Cerdas Cermat Kepalangmerahan (KPMR)
  • Dapur Umum Kreasi (DUK)
  • Perawatan Keluarga (PK)
BAKTI
  • Penghijauan/Penanaman Pohon
GEMBIRA
  • Vocal Group
  • Drama Kemanusiaan 7 (Tujuh) Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional
  • Panggung Seni Kontingen
  • Olah Raga (Sepak Bola Sarung)
  • Anjang Sana antar Kontingen Peserta
  • Pemilihan Putera dan Puteri Palang Merah Indonesia
  • Pameran Kontingen
  • Lomba Majalah Dinding (ukuran 1x1 M)
JUMBARA tak lain sebagai ajang simulasi penanganan kecelakaan atau bencana. Sehingga anggota PMR siap berperan aktif bersama Relawan PMI lainnya dalam penanganan kecelakaan atau bencana pada kondisi yang nyata. Simulasi adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan lomba. Dengan lomba dimaksud, para Relawan dapat belajar dan memacu semangat untuk terus memperbaiki diri serta menggali potensi dalam dirinya untuk mengabdikan diri dalam kegiatan Kepalangmerahan.

Semangat kemanusiaan mengalir dalam jiwa para Relawan. Angkat tandumu kawan dan songsong pasien di depan mata. Bantu insan lainnya meskipun dia musuhmu.

Salam Kemanusiaan



Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-1

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-2

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-3

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-4

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-5


Nekad Bunuh Diri in Bonthain

Bonthain ramai diperbincangkan dengan aksi nekad seorang pemuda yang berusaha bunuh diri. Usaha bunuh diri ini dilakukan oleh salah seorang pemuda bernama Andika Pratama yang berasal dari Tanete, Kabupaten Bulukumba. Upaya ini dilakukannya sejak dini hari, Jum'at 17 September 2010 hingga siang sebelum Sholat Jum'at dilangsungkan.

Menurut sumber terpercaya dan dengan melihat kondisinya secara langsung, pemuda dimaksud mengalami stres. Stres yang dialaminya berupa halusinasi bahwa kiamat telah tiba. Menurut penglihatannya, air menggenangi di sekitarnya yang dianggapnya bahwa itu bagian dari Kiamat. Sehingga dia memilih untuk menghindar dari genangan air tersebut dengan memanjat Tower BTS salah satu provider Seluler yang berlokasi di Kampung Lumpangang, Desa Lumpangang, Kecamatan Pa'jukukang, Kabupaten Bantaeng, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Setelah warga mengetahui kejadian ini, Tim Penyelamat pun segera dihubungi dan langsung menuju TKP. Usaha penyelamatan berhasil dilakukan sebelum Sholat Jum'at, sekitar pukul 12.00 WITA.

Adapun lokasi tepatnya yakni :
Kampung Lumpangang
Desa Lumpangang
Kecamatan Pa'jukukang
Kabupaten Bantaeng
Propinsi Sulawesi Selatan
Indonesia

Rescue Team yang berperan aktif dalam upaya penyelamatan :
1. Baling-baling Adventure Team (BAT)
2. Loka Camp (Resort & Outbound)
3. Brigade Siaga Bencana (BSB) of Bonthain, terdiri dari :
- Satuan Tugas (Satgas) Pemadam Kebakaran 113 of Bonthain
- Tim Medis BSB of Bonthain
4. Kepolisian Republik Indonesia terdiri dari :
- Kepolisian Resort (Polres) Bantaeng
- Kepolisian Sektor (Polsek) Pa'jukukang
5. Tim Medis Kabupaten Bantaeng terdiri dari :
- Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng
- RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng
6. Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bantaeng
7. Pemerintah Setempat terdiri dari :
- Kecamatan Pa'jukukang
- Desa Lumpangang
8. Warga Bonthain


Pihak berwajib yang juga hadir di TKP langsung menggiring pemuda berusia 26 tahun ini menuju Kantor Polres Bantaeng di Jl. Sungai Bialo Bantaeng. Menurut salah seorang anggota dari Polres Bantaeng, Andika akan mengalami pemeriksaan kesehatan lebih lanjut. Selanjutnya akan diinterogasi perihal perbuatannya yang sempat meresahkan masyarakat. Dari pantauan Tim AMBAE di lapangan melaporkan bahwa sebagian masyarakat berusaha meluapkan amarahnya. Saya sangat ingin memukul itu orang pak, keluh salah seorang pemuda dengan nada marah. Warga Lumpangang marah, pasalnya Tower BTS yang dipanjatnya masih berumur kacang. Mereka tidak ingin kampungnya dinodai dengan aksi negatif, terlebih dengan bunuh diri. Apalagi si Andika ini bukan berasal dari kampung kami bahkan bukan orang Bonthain. Demikian gambaran kemarahan warga Kampung Lumpangang.

Akibat aksi ini, masyarakat Bonthain ramai mengunjungi lokasi kejadian. Gosip-gosip tetangga pun tidak ketinggalan. Saking kecilnya Bonthain, tak lama setelah kejadian informasi ini telah tersebar kemana-mana. Salah satunya ditandai dengan masuknya pesan singkat dari beberapa rekan Bonthain di Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Bulukumba. Mereka berusaha mendapatkan kepastian informasi di atas. Tim Bonthain pun bergegas mempublikasikan informasi ini berdasarkan reportase Tim AMBAE di lapangan yang ikut ambil bagian dalam upaya pengelamatan.

Bahkan kemungkinan informasi ini akan tersebar lebih cepat lagi ke seluruh pelosok Nusantara tanpa harus mengunjungi dunia maya dengan hadirnya beberapa Tim Media Elektronik dan Media Cetak di TKP. Berbekal peralatan standar, Tim AMBAE mendapatkan beberapa gambar baik video maupun foto.

Video tersebut dapat dinikmati melalui YouTube. Sedangkan untuk foto-foto dapat dinikmati hasilnya melalui jejaring sosial FACEBOOK.
Back To Top