POR Pelajar VIII 2014

POR Pelajar VIII 2014
Seolah tiada henti, keramaian yang berlangsung di Bonthain. Daerah yang dulunya sunyi, tenggelam di kebisingan kota-kota Indonesia. Tiada kabar terdengar, menjadikannya sebuah daerah yang hampir tidak terlihat di Peta berskala 1:2.000 atau yang lebih besar lagi. Bantaeng kini bukanlah kota sepi. Tetapi kota yang sarat dengan kunjungan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, seperti Seram, Karangasem, Situbondo dan sebagainya. Bahkan kota-kota besar mancanegara, seperti Kamboja, Jepang, Malaysia, Rusia, India, Perancis, Belanda, Jerman, Hong Kong, Korea, China dan sebagainya. Perayaan kecil sekalipun, pasti terpantau dan terpublikasi dengan cepat. Sekecil apapun nuansa kegiatannya, kehebohan di dalamnya langsung mendunia. Menjadikannya semakin ramai dan memikat siapapun untuk menyaksikan keindahan dan keramaian Bonthain yang sedang menuju pencapaian totalitas The New Bantaeng.

Sore tadi (Red. : 23 Nopember 2013) berlangsung pembukaan Pekan Olah Raga Pelajar VIII 2013 yang akan berlangsung selama sepekan ke depan. Kegiatan ini merupakan rangkaian dalam rangka menyambut Hari Jadi Bantaeng ke-759 pada tanggal 7 Desember 2013. Melalui kegiatan ini pula, diharapkan memunculkan bibit atlet yang berpotensi untuk mengikuti kejuaraan berbagai cabang olah raga pada event akbar PORDA XV 2014 yang akan dilaksanakan di Bantaeng.

Puluhan ribu peserta defile mengawali acara pembukaan POR Pelajar VIII 2013 yang terdiri dari para pelajar, official dan juri/wasit. Adapun jumlah peserta yang berasal dari para pelajar sekolah Negeri dan Swasta, yakni :
  • Tingkat SD : 23 Gugus (tiap Gugus terdiri dari 3-6 sekolah)
  • Tingkat SMP/MTs./Pondok Pesantren : 36 sekolah
  • SMA/SMK/MA : 30 sekolah
Peserta defile menunjukkan kreatifitasnya melalui cara berbusana, berbaris, yel-yel, nyanyian, alunan alat musik sampai mempertontonkan atraksi-atraksi tertentu. Beberapa di antaranya mendapat penghargaan sebagai bentuk motivasi Pemerintah Kabupaten Bantaeng terhadap kreatifitas dan semangat yang tinggi, yakni : Tingkat SD
  • Juara 1 : SDN No. 5 lembang Cina
  • Juara 2 : SD Inp. Tappanjeng
  • Juara 3 : SD Inp. Moti
  • Juara 4 : SD Inp. Tanetea
Tingkat SMP
  • Juara 1 : SMP Neg. 1 Bantaeng
  • Juara 2 : SMP Neg. 2 Bantaeng
  • Juara 3 : SMP Neg. 2 Bissappu
  • Juara 4 : SMP Neg. 1 Bissappu
Tingkat SMA
  • Juara 1 : SMA Neg. 1 Bantaeng
  • Juara 2 : SMA Neg. 2 Bantaeng
  • Juara 3 : SMA Neg. 1 Eremerasa
  • Juara 4 : SMK Neg. 5 Bantaeng
Wakil Bupati Bantaeng (H. Muhammad Yasin) dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf atas ketidak hadiran Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) pada acara tersebut. Disampaikan bahwa Bupati Bantaeng sedang melakukan kunjungan kerja ke Jepang dan Korea Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan mendelegasikan kepada H. M. Nurdin Abdullah untuk menjajaki perkereta apian di Tokyo (Jepang) sebagai langkah untuk mewujudkan Kereta Api di Sulawesi Selatan. Sementara di Seoul (Korea Selatan), beliau menghadiri pertemuan yang membahas tentang Ketahanan Pangan. Di samping itu, mengikuti pula Pameran Pertanian Sedunia. Demikian diungkapkan H. Muhammad Yasin sekaligus membacakan sambutan tertulis Bupati Bantaeng. Utamakanlah sportifitas dan junjung fair play dalam mengikuti POR pelajar kali ini. Semangat yang tinggi berbekal kejujuran, sangat penting untuk membuktikan diri anak-anak sekalian akan sebuah pencapaian besar. Sama halnya dengan para juri dan wasit yang menjadi tim penilai pada cabang-cabang olah raga yang dipertandingkan, saya berharap Anda dapat berlaku jujur dan adil, tambah H. Muhammad Yasin. Harapan-harapan yang disampaikan Wakil Bupati Bantaeng, seakan menjadi perenung terhadap diri setiap individu masyarakat Bantaeng. Warga Bantaeng dan segenap penghuni kota Bonthain merupakan obyek pembangunan. Pelajar dengan usia yang masih muda harus dididik menjadi insan-insan yang berbakti dan peduli terhadap kelangsungan pembangunan ke depannya. Semoga setiap harapan yang diidam-idamkan dapat diwujudkan. Salam Olah Raga.
POR Pelajar VIII 2014-1 POR Pelajar VIII 2014-2 POR Pelajar VIII 2014-3 POR Pelajar VIII 2014-4 POR Pelajar VIII 2014-5

SIAP mengenakan Abu-abu

SIAP mengenakan Abu-abu
Libur telah tiba. Setelah bergelut selama 3 (tiga) tahun berseragam biru, saatnya Anak SMP menikmati masa liburan. Menikmati liburan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mengunjungi obyek wisata, pulang kampung ataupun tetap tinggal di rumah sembari mengikuti proses pendaftaran siswa baru guna melanjutkan ke jenjang SMA. Hari ini (Red. : 4 Juli 2012), siswa SMP se-Kabupaten Bantaeng menunggu Hasil Seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang diumumkan pihak sekolah. Rasa was-was menghantui sebagian calon siswa baru, namun tidak kurang pula yang begitu enjoy menanti pengumuman dan tetap optimis akan kelulusannya.

Tim Bonthain kali ini akan mempublikasikan Pengumuman Hasil Seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB) Tahun Pelajaran 2012/2013 yang akan menempati 10 (sepuluh) ruang kelas 1/X di SMA Negeri 1 Bantaeng. Sekolah ini menjadi favorit di Bonthain sebagai sekolah unggulan. Sehingga setiap tahunnya, ribuan pendaftar berupaya mengisi quota yang disiapkan. Sebanyak 264 orang calon siswa baru yang SIAP mengenakan seragam abu-abu di sekolah tersebut, 223 orang merupakan calon siswa yang LULUS berdasarkan hasil seleksi. Sementara 41 orang calon siswa lainnya berpredikat Bebas Tes.





Download versi Originalnya :
Pengumuman Hasil Seleksi PSB 2012 SMA Negeri 1 Bantaeng


SIAP mengenakan Abu-abu-1

SIAP mengenakan Abu-abu-2

SIAP mengenakan Abu-abu-3



ABG Kotori Masjid

Sisa Lebaran
Tidak salah bilamana sebagian besar kalangan mengasumsikan bahwa bumi ini semakin menua. Seiring perkembangan zaman yang semakkin maju dibarengi dengan teknologi yang terus dipacu dan telah merambah segala sisi dunia. Teknologi telah menyentuh segala aspek kehidupan termasuk dunia anak. Kehadirannya mampu menghipnotis obyek apapun yang ditemuinya. Sekali terhipnotis, terkadang bisa larut ke dalamnya dengan segala bujuk rayu dan gombalnya.

Bonthain tidak terlepas dari sentuhan teknologi yang berkembang. Secara mendasar kehadiran teknologi merupakan faktor penting dalam mencapai keberhasilan yang cemerlang. Di lain sisi, tidak dapat dipungkiri pula bahwa teknologi dan segala aspek lainnya memberi dampak negatif terhadap kondisi sosial kemasyarakatan.

Tepatnya pukul 03:40 Wita dini hari (Sabtu, 03 Deesember 2011), Satuan Pengamanan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng merazia beberapa lokasi yang disinyalir kerap meresahkan masyarakat. Kali ini Pol. PP menangkap pasangan di luar nikah yang sedang melakukan aktifitas tidak senonoh. Dua orang pemuda belia dan empat orang pemudi belia diamankan dari TKP untuk selanjutnya diinterogasi dan diberikan pembinaan lebih lanjut oleh Pol. PP.

Kedua pemuda masing-masing berinisial :Madya
  • BU (asal : Kampung Cabodo, Jl. Pahlawan Bantaeng)
  • TO (asal : Pa’bineang, Jl. Mangga Bantaeng)
Sementara keempat pemudi masing-masing berinisial :Madya
  • RS (asal : Kampung Tangnga-tangnga, Jl. Hambali Bantaeng)
  • RA (asal : Kampung Cabodo, Jl. Pahlawan Bantaeng)
  • SE (asal : Kampung Khayangan, Jl. keGaregea Bantaeng)
  • MI (asal : Kampung Borong Kalukua, Jl. Mawar Bantaeng)
Keenam orang tersebut ditangkap di sebuah lokasi yang selama ini dicurigai menjadi tempat maksiat dengan berkedok nama dan lokasi yang bersih yakni Pondok Madinah (Kompleks Masjid Tappaanjeng, Jl. Seruni Bantaeng). Informasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat sekitar TKP mengungkapkan bahwa Pondok Madinah kerap dijadikan tempat kumpul kebo' selama ini. Namun, sebelum kejadian semalam belum ada bukti yang kuat yang dapat membenarkan dugaan kami selama ini, ungkap salah seorang warga yang tidak ingin disebut namanya.

Polisi Pamong Praja menandai salah seorang dari keempat pemudi yang ditangkap. Pemudi berinisial RA tersebut telah berulang kali ditangkap dengan dugaan perbuatan serupa. Sedangkan kedua pemuda berinisial BU dan TO dimaksud merupakan siswa SMK Negeri 3 Tompobulu yang saat ini masih berstatus Pelajar Aktif.

Perbuatan mereka telah mencoreng nama baik pribadinya dan keluarganya. Bahkan lebih jauh lagi, telah mencoreng nama baik Pondok Madinah, Masjid Tappanjeng dan Bonthain pada umumnya. ABG berusia belasan tahun ini telah meresahkan masyarakat dengan segala perbuatannya. Semoga kedua orang tua mereka dapat lebih bijak menyikapi perilaku anaknya. Dengan harapan, si anak dapat lebih sadar dan tidak melakukan hal serupa di masa mendatang.

Pihak Pol. PP sendiri melakukan beberapa tahapan sesuai prosedur yang ditentukan. Hal pertama berupa penangkapan untuk diamankan di Kantor Satpol. PP agar masyarakat tidak bebas main hakim sendiri. Selanjutnya, mereka (pelaku) akan dipertemukan dengan kedua orang tuanya masing-masing. Langkah terakhir dapat ditempuh Pol. PP dengan mengirim para pelaku tersebut ke Pusat Rehabilitasi Anak Mattiro Deceng di Makassar.


ABG Kotori Masjid-1

ABG Kotori Masjid-2

ABG Kotori Masjid-3

ABG Kotori Masjid-4


Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan
Dua minggu mendatang, Ramadhan bakal tiba. Puasa sebulan penuh lamanya, berbagai kegiatan pun dilaksanakan di seantero Indonesia. Bulan sebelumnya, Pramuka melaksanakan Perkemahan Jum'at Sabtu Minggu (PERJUSAMI). Kali ini giliran Palang Merah Indonesia (PMI) melaksanakan Jumpa Bakti Gembira (JUMBARA) Palang Merah Remaja (PMR) se-Kabupaten Bantaeng. Berlangsung sejak tanggal 15 Juli 2011 kemarin dan akan berakhir tanggal 19 Juli 2011 lusa. Ratusan peserta tingkat Madya dan Wira dari berbagai sekolah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sesepuh PMI Butta Toa Cabang Bantaeng (Andi Burhanuddin Syaggaf) menjelaskan, JUMBARA bertujuan untuk menggali potensi para relawan Madya dan Wira atas latihan yang selama ini dilaksanakan di sekolah masing-masing sekaligus memberikan penilaian, memantapkan dan memberikan penghargaan atas jerih payahnya. Tidak hanya itu, menurutnya dengan JUMBARA para relawan dapat bertukar informasi, membangkitkan semangat perdamaian dan persatuan. Termasuk di dalamnya dapat mempererat persaudaraan antara Pembina, Guru, Pelatih dan Relawan serta antar Relawan itu sendiri.

JUMBARA jangan sekedar dijadikan sebagai ajang lomba saja, meski pada dasarnya dalam kegiatan ini berkaitan erat dengan perlombaan. KAENG atau Karaeng Boer yang juga akrab disapa Bung Tomo oleh Komunitas Radio 2 Meteran, menekankan kepada setiap Panitia yang tergabung dalam Korps Suka Rela (KSR) Butta Toa agar mengarahkan dan memberikan pembinaan terhadap Relawan Madya maupun Wira bilamana dalam pelaksanaan lomba masih mengalami kendala. Hal ini dilakukan demi mempersiapkan PMR Madya dan Wira yang siap menjadi generasi penerus PMI di masa mendatang.

JUMBARA PMR ke-III se-Kabupaten Bantaeng Tahun 2011 mengambil Tema Ceria, Cerdas dan Bersahabat (Cheerful, Smart and Friendly) dengan Sub Tema Berprestasi, Berkreasi dan Meningkatkan Keterampilan untuk Kemanusiaan yang mengambil lokasi di Lapangan Sambang Katimbang, Kamp. Pullauweng, Desa Ulugalung, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng. Peserta sebanyak 207 orang Relawan dan 36 orang Pembina, terdiri dari :

Madya
  • SMP Neg. 2 Bissappu
  • SMP PGRI Campagaloe
  • SMP Neg. 2 Gantarang Keke
  • SMP DDI Mattoanging
  • Mts. Hasyim Ashari (Tanetea)
  • MTs. Ma'Arif Puro'ro
Wira
  • SMA Neg. 1 Bantaeng
  • SMA Neg. 1 Bissappu
  • SMK Yayasan Mega Anugerah (Rappoa)
  • MA Nahdhatul Tawalib Tompong
Diharapkan melalui JUMBARA ini akan mewujudkan Remaja PMI yang berkarakter dan berbakti kepada masyarakat. PMR dapat menjalin dan mempererat persahabatan nasional maupun internasional, mengingat Relawan di bawah panji Palang Merah adalah satu-satunya komunitas independen yang dapat menengahi kubu-kubu yang berseteru. Bercermin pada tokoh Jusuf Kalla (JK) yang juga Ketua Umum PMI dalam penyelesaian konflik GAM di Aceh. Seluruh Relawan, baik dari tingkat Mula, Madya, Wira, KSR, Pembina, Pelatih dan sebagainya kiranya dapat mengikuti jejak petinggi PMI itu. Menanamkan jiwa kepedulian di dalam dirinya. Peduli tanpa pamrih dan tidak mengutamakan kepentingan golongan tertentu meski harus rela kepansanan, kedinginan dan kehujanan.

Support dari berbagai kalangan terhadap kegiatan ini amatlah besar, antara lain :
  • Fire Rescue of Bonthain
  • Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain
  • Pemerintah Kabupaten Bantaeng
  • Rumah Sakit Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
  • Puskesmas Sinoa
  • Sanggar Seni Latar Nusa
  • AMBAE
  • Ambae.exe
  • Gadde-gadde
  • PMI Cabang Bulukumba
  • KSR Panrita Lopi-Bulukumba
  • Baling-baling Adventure Team (BAT)
  • POM
  • TNI
  • Komunitas Seni dan Budaya Bantaeng
  • Komunitas Seni dan Budaya Bulukumba
  • dan Komunitas Jajanan Bonthain
PMR merupakan cikal bakal Relawan PMI yang berkualitas yang mampu menjalankan tugas-tugas kemanusiaan dan menjalin kesinambungan organisasi PMI di masa depan. Olehnya itu, PMR harus dididik, dibina dan dikembangkan sejak dini agar bisa menjadi sosok Relawan yang berkarakter keIndonesia-an, terampil, kreatif dan memiliki jiwa kepemimpinan. JUMBARA merupakan sarana untuk mewujudkan upaya tersebut dengan mengadakan berbagai perlombaan. Sehingga Relawan memiliki bekal sebelum terjun ke lapangan, khususnya dalam menangani korban kecelakaan atau pun bencana. Lomba-lomba yang harus diikuti tiap peserta Madya maupun Wira yakni :

JUMPA
  • Pertolongan Pertama (PP)
  • Pasang Bongkar Tandu (PBT)
  • Cerdas Cermat Kepalangmerahan (KPMR)
  • Dapur Umum Kreasi (DUK)
  • Perawatan Keluarga (PK)
BAKTI
  • Penghijauan/Penanaman Pohon
GEMBIRA
  • Vocal Group
  • Drama Kemanusiaan 7 (Tujuh) Prinsip Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional
  • Panggung Seni Kontingen
  • Olah Raga (Sepak Bola Sarung)
  • Anjang Sana antar Kontingen Peserta
  • Pemilihan Putera dan Puteri Palang Merah Indonesia
  • Pameran Kontingen
  • Lomba Majalah Dinding (ukuran 1x1 M)
JUMBARA tak lain sebagai ajang simulasi penanganan kecelakaan atau bencana. Sehingga anggota PMR siap berperan aktif bersama Relawan PMI lainnya dalam penanganan kecelakaan atau bencana pada kondisi yang nyata. Simulasi adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan lomba. Dengan lomba dimaksud, para Relawan dapat belajar dan memacu semangat untuk terus memperbaiki diri serta menggali potensi dalam dirinya untuk mengabdikan diri dalam kegiatan Kepalangmerahan.

Semangat kemanusiaan mengalir dalam jiwa para Relawan. Angkat tandumu kawan dan songsong pasien di depan mata. Bantu insan lainnya meskipun dia musuhmu.

Salam Kemanusiaan



Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-1

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-2

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-3

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-4

Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan-5


Sumber Daya Lokal demi Kualitas Pendidikan

Hardiknas 2011 Bonthain-1
Pagi yang cerah di awal Mei 2011, semua insan pendidikan antusias mengikuti Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin, 2 Mei 2011 ini dipusatkan di Halaman Kantor Bupati Bantaeng. Dalam kesempatan tersebut, bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Ketua DPRD Kabupaten Bantaeng (Hj. Novrita Langgara). Upacara berlangsung khidmat dihadiri ribuan peserta dari berbagai kalangan pendidik mulai dari tingkat pelajar TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan masing-masing Tenaga Pendidik serta para pejabat SKPD se-Kabupaten Bantaeng.

Hardiknas 2011 mengambil tema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dengan Sub Tema Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti. Dalam Sambutan Menteri Pendidikan Nasional yang dibacakan Hj. Novrita Langgara, pendidikan usia dini harus menjadi perhatian penuh insan pendidik dalam rangka menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka pada tahun 2045. Pendidikan harus mampu menangkal Radikalisme yang berkembang pesat saat ini. Tenaga Pendidik diharapkan berperan lebih aktif dalam memberikan pendidikan berbasis kasih sayang kepada setiap anak didiknya.

Dunia pendidikan merupakan tulang punggung terciptanya karakter Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Melalui peringatan Hardiknas, tidak sekedar untuk mengenang hari kelahiran Ki Hajar Dewantara selaku Bapak Perintis Pendidikan Nasional. Namun lebih merupakan sebuah momentum untuk makin memperkokoh kesadaran dan komitmen bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa.

Secara mendasar, Tim Bonthain menilai bahwa setiap peringatan di Tanah Air selalu berbuah kesuksesan yang luar biasa. Namun, tantangan terbesar sebenarnya adalah bagaimana memaknai peringatan yang telah dilaksanakan sedemikian meriahnya. Terkait dengan Hardiknas 2011, dari tahun ke tahun terjadi pergeseran nilai pendidikan. Dari satu sisi Pemerintah memberikan batasan pada tingkatan SMA (Ijazah SMA) sebagai dasar minimal dalam mencari kerja. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak tenaga kerja berbekal Ijazah SMA bahkan S1 dan seterusnya dengan kualitas yang belum tentu dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini terjadi karena kualitas pendidikan yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan yang pada akhirnya berbuah kualitas yang apa adanya pula bagi subyek terdidik. Sementara kebutuhan lapangan kerja akan tenaga kerja berkualitas amatlah tinggi.

Semua pihak berharap bahwa Pemerintah tidak serta merta menggenjot kuantitas tenaga kerja. Sedangkan kualitas tenaga kerja diabaikan begitu saja. Tak hanya Pemerintah, peranan tenaga terdidik itu sendiri harus menyadari akan pentingnya kualitas yang harus diraihnya. Tentunya dengan ketekunan dalam belajar, berlatih dan bereksperimen dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di sekelilingnya. Lebih jauh lagi, peranan orang tua dan tenaga pendidik pada khususnya dalam rangka menggenjot kualitas yang ditargetkan. Minimal mempertahankan prestasi/kualitas yang telah dicapai selama ini.

Berbagai hal menjadi faktor penentu peningkatan kualitas pendidikan. Tidak terlepas dari cerita UN, UAN yang selama ini hangat diperbincangkan. Apakah UN/UAN harus tetap dipertahankan sebagai penentu utama tiap kelulusan siswa di sekolah. Betapa tidak, hingga tahun 2011 UN/UAN masih saja menjadi faktor utama penentu kelulusan dengan perbandingan 60 % terhadap 40 % Nilai Mata Pelajaran sehari-hari. Sehingga anak didik masih saja dibayang-bayangi ketakutan dalam menghadapi UN/UAN. Seolah hasil jerih payahnya selama 3 tahun di bangku sekolah tidak ada nilainya sama sekali.

Sebagai insan di luar dunia pendidikan, kita tentu berharap banyak agar pendidikan ke depan lebih baik dari saat ini. Pemanfaatan sumber daya yang ada harus benar-benar diterapkan dalam lingkup dunia pendidikan. Tim Bonthain memberi satu contoh kecil :
  • Memanfaatkan jejaring sosial yang ada khususnya yang berbau produk dalam Negeri seperti halnya Kompasiana, Kaskus, Koprol dan sebagainya. Meski tidak menutup kemungkinan dapat pula memanfaatkan Social Network yang lebih yahud seperti Blogspot, Facebook, Twitter dan sebagainya. Jejaring Sosial dan media internet secara umum dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran efektif dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar. Guru menyediakan e-book Gratis melalui Blog misalnya, untuk selanjutnya diunduh para siswa. Demikian halnya dengan proses diskusi, sharing maupun interaksi tugas dari guru kepada siswanya.
  • Pemerintah aktif memberikan Reward kepada Guru maupun Siswa berprestasi dengan tujuan untuk memacu daya kreatifitas Guru dan Siswa lainnya.
  • Pengenalan dan pembiasaan diterapkan terhadap pentingnya mengenal dan melestarikan budaya lokal. Di Bonthain misalnya, saat ini cenderung merosot pengetahuan anak akan Bahasa Makassar apalagi budaya dan sejarah Makassar itu sendiri. Hal ini terjadi karena Bahasa dan Budaya Makassar tidak lagi masuk dalam lingkup pendidikan. Kalau pun masih ada, hanya sebatas tulisan saja. Guru enggan berharap agar mencapai hasil lebih. Malah ada istilah yang berkembang di masyarakat Yang penting disalin. Ironis rasanya kalau Mata Pelajaran Bahasa Makassar tidak menjadi prioritas di Makassar. Mata pelajaran ini hanya sampai pada tingkat SD dan SMP. Sementara pada tingkatan SMA tiada lagi alias menghilang pelajaran Bahasa Makassar yang bukunya banyak ditulis oleh Djirong Basang alis Daeng Ngewa. Dan lebih parahnya lagi untuk tingkatan Strata (S1/S2) Sastera Bahasa Makassar, orang Indonesia mesti menuntut ilmu di negeri Kincir Angin (Belanda) selain di UNHAS, UNM dan beberapa Perguruan Tinggi di Makassar.
  • Pengenalan dan pelatihan yang diterapkan pada siswa untuk mata pelajaran khusus mengenai budaya Batik. Indonesia merupakan pemilih paten Batik yang telah diakui oleh UNESCO. Lantas seberapa jauh batik diketahui oleh masyarakat Indonesia. Akankah Batik sekedar pengakuan saja yang dengan sendirinya beberapa tahun mendatang budaya ini tidak lagi dikenal oleh anak negeri sendiri. Wajar saja bilamana bangsa lain selalu punya niat untuk mengklaim budaya Indonesia sebagai budaya miliknya.
  • Sejarah yang menurut sebagian besar kalangan saat ini semakin diburamkan. Olehnya itu, dunia pendidikan beserta semua antek-anteknya harus bertindak tegas dalam membekali anak didik demi meluruskan sejarah pada titik yang benar dan otenntik.
Langsung atau tidak langsung, seorang Blogger telah menorehkan noktah pada Blognya lewat karya-karyanya. Berbagai karya positif Blogger yang tersedia saat ini dan yang akan ditorehkan berikutnya amatlah bermanfaat terhadap dunia pendidikan. Pada tingkatan pendidikan formal maupun non formal, anak didik dituntut selektif memanfaatkan informasi yang ada di dunia maya. Bilamana hal ini dilakukan, maka dapat dipastikan bahwa anak didik akan memiliki kualitas lebih baik karena mendapatkan ilmu bermanfaat dari sumber/guru gratis dengan karya positif yang dipersembahkannya.

Bagi para Blogger, mari kita berbagi segala sesuatu yang bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan yang lebih baik dalam rangka pembentukan karakter yang berprestasi dan berbudi pekerti.


Hardiknas 2011 Bonthain-2

Hardiknas 2011 Bonthain-3

Hardiknas 2011 Bonthain-4

Hardiknas 2011 Bonthain-5

Hardiknas 2011 Bonthain-6


Back To Top